
Sungai Gelam (MAN 1 Muaro Jambi) ~ Suasana pendopo belakang MAN 1 Muaro Jambi tampak berbeda pada Kamis (11/12) kemarin. Kelas XII B menampilkan sebuah pertunjukan drama kolosal dalam rangka ujian praktik mata pelajaran Seni Budaya. Pertunjukan ini mengangkat kisah legenda Roro Jonggrang yang sarat nilai sejarah, cinta, dan dendam. Sejak awal, penonton terlihat antusias menyaksikan setiap adegan yang ditampilkan para siswa.
Pertunjukan Sendratasik Roro Jonggrang diawali dengan kisah perebutan kekuasaan antara Kerajaan Pengging dan Kerajaan Baka. Bandung Bondowoso, penguasa Kerajaan Pengging, digambarkan sebagai raja sakti yang ambisius dan penuh tekad. Konflik memuncak saat Prabu Boko, raja Kerajaan Baka, mengalami kekalahan dan tewas di tangan Bandung Bondowoso. Adegan ini disajikan dengan dramatik sehingga mampu membangun emosi penonton sejak awal cerita.
Setelah kemenangan tersebut, Bandung Bondowoso menaruh hati pada Roro Jonggrang, putri Prabu Boko yang terkenal akan kecantikannya. Namun, lamaran tersebut ditolak karena Roro Jonggrang tidak dapat menerima pria yang telah membunuh ayahnya. Penolakan ini menjadi awal dari konflik batin dan intrik yang mendalam dalam alur cerita. Penonton dibuat larut dalam dilema yang dialami tokoh utama perempuan tersebut.
Untuk menggagalkan pernikahan, Roro Jonggrang mengajukan syarat yang tampak mustahil, yakni pembangunan seribu candi dan sumur Jalatunda dalam semalam. Bandung Bondowoso menerima tantangan itu dengan penuh keyakinan dan memanggil para jin untuk membantunya. Dalam pertunjukan, adegan ini dikemas dengan perpaduan gerak tari dan drama yang memikat. Properti dan musik pengiring menambah kesan magis pada suasana yang digambarkan.
Saat pembangunan hampir rampung, Roro Jonggrang menyusun tipu daya untuk menggagalkan usaha tersebut. Ia membangunkan para wanita desa untuk menumbuk lesung dan membakar jerami, sehingga menyerupai tanda-tanda pagi. Para jin yang mengira fajar telah tiba pun menghentikan pekerjaan mereka. Adegan ini mendapat respons riuh dari penonton yang menyadari kecerdikan Roro Jonggrang.
Mengetahui dirinya ditipu, Bandung Bondowoso diliputi amarah yang tak terbendung. Dalam kemarahannya, ia mengutuk Roro Jonggrang menjadi patung batu untuk melengkapi candi ke-seribu. Adegan kutukan ini menjadi klimaks pertunjukan yang membuat suasana pendopo hening seketika. Penonton menyaksikan akhir tragis kisah cinta yang berujung petaka tersebut.
Peran Roro Jonggrang dimainkan oleh Saskia Dara Devi, siswi kelahiran Muaro Jambi, 26 Juni 2008. Ia mampu membawakan karakter Roro Jonggrang dengan penghayatan yang kuat dan ekspresi emosional yang mendalam. Sementara itu, peran Bandung Bondowoso diperankan oleh Oka Nur Rangga dengan penuh wibawa dan ketegasan. Banyak penonton memuji kekompakan para pemain sepanjang pertunjukan berlangsung.
Guru Seni Budaya, Suci Intan Maulida, S.Sn., M.Sn., turut hadir menyaksikan langsung penampilan para siswa. Ia mengatakan bahwa pertunjukan ini merupakan bentuk penerapan pembelajaran seni yang mengintegrasikan drama, tari, dan musik. Turut hadir pula Waka Kesiswaan, Siti Fatimah, S.Pd., serta Wakil Kepala Madrasah bidang Kehumasan Hj. Nurgayah, S.Pd.I. Beberapa wali siswa juga tampak hadir dan mengaku bangga melihat penampilan putra-putri mereka di atas panggung.
|
37x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Muaro Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...