
Sungai Gelam (MAN 1 Muaro Jambi) ~ Halaman madrasah berubah menjadi ruang ekspresi seni yang hidup ketika kelas XII A menampilkan pertunjukan teater dalam rangka ujian praktik mata pelajaran Seni Budaya pada Kamis (11/12). Kegiatan ini menjadi bagian dari evaluasi akhir pembelajaran seni yang menuntut siswa mengekspresikan pemahaman estetika, pesan moral, dan kerja kolaboratif. Sejak awal pertunjukan, perhatian penonton tertuju pada tata panggung, kostum, dan alur cerita yang dibangun dengan serius. Ujian praktik ini bukan sekadar penilaian akademik, melainkan juga ruang pembuktian kreativitas siswa.
Pertunjukan yang digelar di halaman MAN 1 Muaro Jambi tersebut menghadirkan nuansa yang berbeda dari biasanya. Suasana sekolah terasa lebih hidup dengan sorak penonton dan ekspresi pemain yang penuh penghayatan. Cerita yang diangkat mengisahkan perjuangan warga lokal dalam mempertahankan tanah leluhur dari ancaman penggusuran. Konflik ini terasa dekat dengan realitas sosial yang kerap terjadi di berbagai daerah.
Dalam alur cerita, digambarkan sekelompok investor asing datang dengan membawa tawaran uang miliaran rupiah. Mereka berambisi membeli lahan warga untuk membangun gedung-gedung pencakar langit. Namun, warga lokal menolak karena tanah tersebut memiliki nilai sejarah dan identitas bagi mereka. Konflik kepentingan inilah yang menjadi inti dramatik pertunjukan.
Peran warga lokal diperankan oleh Adnanda Fiqli Pratama dan Fatonah Dewi Khomsiani yang tampil dengan penuh penghayatan. Keduanya mampu menampilkan emosi marah, sedih, dan tegas secara seimbang. Sementara itu, tokoh pengembang diperankan oleh Ilyas M Hafidz dan Rafi Khairul Hafiz dengan karakter yang persuasif namun menekan. Peran antagonis utama yang dimainkan oleh Dzaki Nibras Al-Fairuz tampil kuat dan memancing emosi penonton.
Akting para pemain mendapat respons luar biasa dari penonton yang memadati area pertunjukan. Beberapa penonton tampak terdiam menyimak dialog yang sarat pesan moral. Tidak sedikit pula yang bertepuk tangan spontan ketika adegan klimaks berlangsung. Reaksi histeris penonton menandakan bahwa pesan cerita tersampaikan dengan baik.
Wali kelas XII A, Ahmad Said Akbar, S.Pd., turut menyaksikan langsung jalannya pertunjukan. Ia mengaku terkesan dengan kesiapan siswa dalam menampilkan teater tersebut. "Waaow, keren dan spektakuler, baik dari akting, kostum, maupun properti yang dipersiapkan," ujar Said secara langsung. Ia menilai pertunjukan ini melampaui ekspektasi ujian praktik biasa.
Guru Seni Budaya MAN 1 Muaro Jambi, Suci Intan Maulia, S.Sn., M.Sn., juga mengungkapkan rasa bangganya. Menurutnya, kelas XII A menjadi satu-satunya kelas yang berani menampilkan pertunjukan teater dengan konsep orisinal. Ia menyampaikan secara tidak langsung bahwa keberanian siswa dalam mengangkat isu sosial patut diapresiasi. Hal ini menunjukkan kedewasaan berpikir dan kepekaan seni siswa.
Suci Intan menjelaskan bahwa kelas lain juga menampilkan karya seni yang tidak kalah menarik. Kelas XII B membawakan drama kolosal legenda Roro Jonggrang, sementara XII C mengangkat kisah Rama dan Shinta. Kelas XII D menampilkan legenda Malin Kundang, dan XII E membawakan kisah Rang Kayo Hitam. Keragaman cerita ini memperkaya pengalaman seni di lingkungan madrasah.
#4Meski demikian, pertunjukan teater XII A dinilai memiliki kekuatan pada orisinalitas cerita dan relevansi isu. Pesan tentang mempertahankan tanah leluhur dianggap sangat kontekstual dengan kondisi sosial masyarakat. Hal ini membuat penonton lebih mudah terhubung secara emosional. Seni pun berfungsi sebagai media refleksi sosial.
Melalui ujian praktik ini, MAN 1 Muaro Jambi menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan potensi seni siswa. Pembelajaran Seni Budaya tidak hanya berhenti pada teori, tetapi diwujudkan dalam karya nyata. Kegiatan ini juga melatih kepercayaan diri, kerja sama, dan tanggung jawab siswa. Teater di halaman madrasah pun menjadi saksi lahirnya generasi muda yang kritis dan kreatif.
|
27x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Muaro Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...