
Sungai Gelam (MAN 1 Muaro Jambi) ~ Di tengah derasnya arus perkembangan zaman, para guru MAN 1 Muaro Jambi mengambil langkah reflektif. Sejak 22 hingga 28 April 2026, mereka mengikuti pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta melalui platform Pintar Kemenag. Program ini bukan sekadar pelatihan biasa. Ia hadir sebagai jawaban atas kebutuhan pendidikan yang lebih menyentuh sisi kemanusiaan. Di balik layar digital, para guru belajar menghadirkan cinta dalam setiap pembelajaran.
Platform MOOC Pintar menjadi jembatan yang menghubungkan guru dari berbagai daerah. Tanpa batas ruang, mereka saling belajar dan berkembang. Materi disajikan secara sistematis dan mudah dipahami. Guru dapat mengaksesnya kapan saja sesuai waktu yang dimiliki. Fleksibilitas ini menjadi kekuatan utama pelatihan.
Sri Mahmudah, S.Pd., salah satu guru yang mengikuti pelatihan, membagikan pengalamannya. Ia mengatakan, “Program ini membuka wawasan saya bahwa mengajar bukan hanya soal materi, tetapi juga soal rasa.” Pernyataan ini menggambarkan perubahan perspektif yang dialaminya. Ia mulai melihat pembelajaran sebagai proses yang lebih dalam. Bukan sekadar transfer ilmu.
Secara tidak langsung, ia juga mengungkapkan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta membantu guru memahami kebutuhan emosional siswa. Di tengah tekanan akademik, siswa membutuhkan perhatian dan empati. Kurikulum ini memberikan panduan untuk itu. Guru diajak menjadi lebih peka. Pembelajaran pun menjadi lebih bermakna.
Kementerian Agama RI merancang program ini sebagai langkah strategis. Pendidikan tidak boleh kehilangan nilai kemanusiaan. Di era digital, tantangan moral semakin kompleks. Oleh karena itu, pendekatan berbasis cinta menjadi solusi. Ini adalah upaya membangun generasi yang berkarakter.
Pelatihan ini juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Ketika siswa merasa dihargai, mereka akan lebih terbuka. Proses belajar menjadi menyenangkan. Tidak ada tekanan berlebihan. Yang ada adalah hubungan yang hangat antara guru dan siswa.
Para guru MAN 1 Muaro Jambi mengikuti setiap sesi dengan penuh kesungguhan. Mereka aktif berdiskusi dan menyelesaikan modul yang diberikan. Ada semangat untuk terus belajar. Mereka sadar bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri. Guru adalah agen perubahan.
Dengan berakhirnya pelatihan nanti, harapan besar mulai tumbuh. Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan dapat diterapkan secara nyata di madrasah. Siswa tidak hanya cerdas, tetapi juga berempati. Pendidikan menjadi lebih manusiawi. Dan dari ruang kelas, cinta itu akan menyebar ke dunia.
|
52x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Muaro Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...