
SUngai Gelam (MAN 1 Muaro Jmabi) Di sebuah mushola Assuhada belasan anak berlatih memukul rebana sore ini (07/08). Sekitar pukul 15.00 , mereka sudah memadati ruangan yang hendak digunakan untuk latihan. Sembari menyediakan ricikan alat musik itu. Ya, mereka hendak belajar hadroh.
Dipimpin dua orang pembimbing, mereka segera menempatkan diri, belajar menabuh alat musik pukul tersebut. Terdengar irama tak-tak dud, tak-tak dud secara berulang. Tak jarang terdengar suara salah pukul, tidak sesuai dengan irama yang dimainkan.
Tampak seorang anak laki-laki bernama Firdaus, 10, merasa bingung. Dan, Yanuar Dwiki, 12, berjuang keras dan tetap pada konsentrasi alat musik yang dimainkannya.
Pembimbing hadroh Mujahidin mengatakan, belajar hadroh tidaklah mudah. Membutuhkan latihan yang berulang-ulang untuk dapat memahami tabuhan iramanya. Irama pas dengan pukulan yang tepat. Jika meleset, atau salah sedikit dalan pukulan, akan merusak irama.
“Semua harus dilakukan penuh konsentrasi. Antara gerakan pukulan tangan dan instrumennya teratur,†ungkap pria berusia 27 tahun ini saat membimbing menabuh rebanan.
Ada 16 jenis seluruhan ricikan alat musik hadroh. Enam di antaranya rebana atau terbang. Kemudian bastam, terbuka, kaprak, kempring, dan lainnya. Masing-masing terbang berukuran berbeda.
Semakin besar diameter, semakin menggema. Sebaliknya, semakin kecil pukulannya menjadikan suara cenderung kenyal. Umumnya alat musik terbang dimainkan dengan cara ditabuh dan masing-masing dimainkan dengan irama berbeda membentuk satu kesatuan.
Belajar hadroh tidak bisa dimainkan secara cepat. Butuh tujuh hingga delapan kali pertemuan untuk sekadar belajar ilmu dasar. Belajar hadroh meliputi pengenalan kesenian hadroh, cara memukul, mempraktikkan, dan mengulang sampai bisa. Hingga jika dirasa sudah mahir, baru ditambahkan lagu atau syair.
“Tujuh sampai delapan kali pertemuan baru terlihat warna anak-anak, apakah mereka bisa mengikuti hadroh atau tidak,†tutur Mujahidin kepada Radar Jogja.
Pada saat melatih anak-anak, dia menjelaskan untuk mendapatkan tabuhan yang bagus diperlukan posisi tangan dan pukulan yang tepat. Dia mencontohkan untuk tabuhan berbunyi 'tak' maka jari tangan menyentil bagian tepi terbang. Posisinya jari dibiarkan sedikit terbuka.
Lain halnya suara 'dung' dihasilkan dengan memukul ke bagian tengah terbang dengan posisi lima jari tangan saling merapatkan. “Begini,†terang dia mencontohkan.
Bila anak-anak sudah terbiasa memukul terbang, dia yakin belajar irama lain akan lebih mudah. Sekalipun pukulan rumit, apabila anak-anak ulet dan ada kemauan keras untuk belajar.
kegiatan ini sebagai wadah memfasilitasi anak-anak maupun pemuda setempat untuk menuangkan kreativitasnya. Dengan demikian kesenian hadroh menjadi bagian budaya islamiyah, diharap terus lestari.
Melalui pelatihan ini, diharapkan mampu menggerakkan kesenian hadroh yang dulu sempat tertanam di wilayah ini. Hanya sekarang sudah kehilangan lintas generasi.
Dengan begitu, dia ingin anak-anak dan remaja sekitar dapat menyalurkan kemampuannya belajar kesenian hadroh. Ruang ini menjadi wadah sekaligus nguri-uri kabudayan yang telah diperkenalkan wali songo tempo dulu. “Sehingga memicu anak terbisa menghabiskan waktu dengan kegiatan positif. Salah satunya bermain hadroh ini.
|
121x
Dibaca |
Untuk Wilayah Kab. Muaro Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...