
Sungai Gelam (MAN 1 Muaro Jambi) ~ Guru yang bertugas sebagai petugas piket penyambutan peserta didik di MAN 1 Muaro Jambi melaksanakan pemeriksaan penampilan siswi pada Rabu (5/8/2026) pagi. Kegiatan tersebut dilakukan secara mendadak sebagai bagian dari pembinaan kedisiplinan dan pembiasaan menaati tata tertib madrasah. Sasaran pemeriksaan meliputi kebersihan serta panjang kuku, penggunaan nail art, dan kelengkapan seragam, termasuk dalaman jilbab yang digunakan oleh peserta didik perempuan. Dari hasil pemeriksaan ditemukan beberapa siswi yang memiliki kuku sudah melebihi batas yang diperbolehkan. Selain itu, terdapat pula beberapa peserta didik yang masih menggunakan nail art sehingga langsung didata untuk mendapatkan pembinaan lebih lanjut.
Muhaiti, S.Pd., yang menjadi salah satu guru piket pada hari itu menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bukan bertujuan untuk memberikan hukuman, melainkan sebagai bentuk pembinaan karakter kepada peserta didik. "Pemeriksaan ini kami lakukan agar peserta didik terbiasa berpenampilan sederhana, rapi, dan sesuai dengan aturan yang berlaku di madrasah," ujarnya. Ia menerangkan bahwa setiap peserta didik yang kedapatan memiliki kuku panjang langsung diminta untuk segera memotong kukunya. Sementara itu, bagi siswi yang masih memakai nail art, guru memberikan waktu paling lama dua hari untuk membersihkannya. Setelah itu mereka diwajibkan melapor kepada guru piket sebagai bukti bahwa penampilannya telah kembali sesuai dengan ketentuan madrasah.
Muhaiti menegaskan bahwa aturan mengenai kebersihan dan kerapian penampilan bukan sekadar persoalan estetika. "Kami ingin peserta didik lebih fokus belajar daripada terlalu memikirkan penampilan yang tidak sesuai dengan lingkungan pendidikan," katanya. Ia menjelaskan bahwa madrasah memiliki tata tertib yang harus dipatuhi oleh seluruh warga belajar demi menciptakan suasana yang kondusif. Menurutnya, pembiasaan disiplin sejak dini akan membentuk karakter yang bertanggung jawab dan mampu menghargai aturan. Oleh sebab itu, kegiatan pemeriksaan seperti ini akan terus dilakukan secara berkala agar peserta didik semakin terbiasa mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan.
Lebih lanjut, Muhaiti menjelaskan bahwa kuku yang terlalu panjang maupun penggunaan nail art juga dapat mengganggu aktivitas pembelajaran. "Ketika mengikuti pelajaran praktik atau olahraga, kuku yang panjang justru dapat menyulitkan peserta didik dan bahkan berisiko melukai diri sendiri maupun teman," ungkapnya. Ia mencontohkan bahwa saat bermain bola voli, banyak peserta didik menjadi kurang leluasa karena khawatir kukunya patah atau hiasan pada kuku rusak. Kondisi tersebut dapat mengurangi konsentrasi saat mengikuti kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, menjaga kuku tetap pendek dan bersih merupakan bagian dari upaya menciptakan proses belajar yang lebih nyaman.
Selain memeriksa kondisi kuku, guru piket juga memastikan setiap siswi telah mengenakan dalaman jilbab sesuai dengan ketentuan madrasah. "Kelengkapan seragam juga menjadi perhatian kami karena merupakan bagian dari identitas dan kedisiplinan peserta didik," jelas Muhaiti. Ia mengatakan bahwa sebagian besar siswi telah mematuhi aturan berpakaian dengan baik sehingga pemeriksaan berlangsung tertib. Bagi peserta didik yang masih belum sesuai, guru memberikan arahan secara persuasif tanpa mempermalukan mereka di hadapan teman-temannya. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran sehingga peserta didik memperbaiki kesalahannya dengan sukarela.
Beberapa peserta didik mengaku memahami tujuan dilaksanakannya pemeriksaan tersebut. "Kami menyadari bahwa aturan ini dibuat untuk kebaikan bersama dan agar kami terbiasa disiplin," ujar salah seorang siswi setelah mengikuti pemeriksaan. Ia mengaku akan segera memotong kuku sesuai arahan guru dan mengingatkan teman-temannya agar selalu mematuhi tata tertib madrasah. Menurutnya, penampilan yang rapi akan membuat peserta didik lebih percaya diri saat mengikuti pembelajaran. Ia juga berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan secara adil kepada seluruh peserta didik.
Guru piket lainnya turut mengapresiasi sikap kooperatif yang ditunjukkan oleh sebagian besar peserta didik selama pemeriksaan berlangsung. "Alhamdulillah, sebagian besar siswi menerima arahan dengan baik dan bersedia memperbaiki kekurangan yang ditemukan," ujar salah seorang guru. Ia menilai pembinaan yang dilakukan secara humanis lebih efektif dibandingkan memberikan sanksi tanpa penjelasan. Guru juga mengingatkan bahwa kedisiplinan tidak hanya diterapkan saat ada pemeriksaan, tetapi harus menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, peserta didik akan memiliki karakter yang lebih bertanggung jawab baik di lingkungan madrasah maupun di luar madrasah.
Melalui kegiatan pemeriksaan yang dilakukan secara rutin, MAN 1 Muaro Jambi berkomitmen menanamkan budaya disiplin, kebersihan, dan kepatuhan terhadap tata tertib kepada seluruh peserta didik. "Harapan kami, peserta didik tidak hanya berprestasi dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter yang baik serta mampu menjaga sikap dan penampilan sesuai dengan nilai-nilai madrasah," tutup Muhaiti. Pembinaan tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian madrasah dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia, disiplin, dan bertanggung jawab. Dengan dukungan seluruh guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan peserta didik, budaya tertib di lingkungan MAN 1 Muaro Jambi diharapkan terus tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui langkah sederhana seperti menjaga kebersihan kuku dan kerapian seragam, peserta didik diajak memahami bahwa kedisiplinan merupakan modal penting untuk meraih kesuksesan di masa depan.
|
36x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Muaro Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...